Apakah kita milik kesayangan Tuhan?

Bacaan : Ulangan 7 : 5-6

(oleh : Bpk. Danoes, Ketua Kelp. 2 Blok V)


Sudah berapa lamakah anda menjadi Kristen ? Apakah selama ini anda sudah merasakan menjadi umat kesayangan Tuhan ? Jika sudah, benarkah Ia menjadikan kita umat kesayangan-Nya oleh karena kebaikan, kepandaian, kekayaan, kecakapan, keberhasilan, atau karena kita memang merasa layak untuk dijadikan umat kasayangan-Nya ? Tidak ! Semua itu bukan alasan Tuhan untuk memilih kita menjadi kesayangan-Nya.

Sudah berapa lamakah anda menjadi Kristen ? Apakah selama ini anda sudah merasakan menjadi umat kesayangan Tuhan ? Jika sudah, benarkah Ia menjadikan kita umat kesayangan-Nya oleh karena kebaikan, kepandaian, kekayaan, kecakapan, keberhasilan, atau karena kita memang merasa layak untuk dijadikan umat kasayangan-Nya ? Tidak ! Semua itu bukan alas an Tuhan untuk memilih kita menjadi kesayangan-Nya.

Dalam ayat 7-9, Tuhan berfirman, “Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa mana pun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu — bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? — tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir. Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan,”. Dalam firman-Nya tersebut, jelas sekali dinyatakan bahwa Tuhan menjadikan kita milik kesayangan-Nya karena Tuhan sangat mengasihi kita, setia memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan kepada nenek moyang kita, asal kita senantiasa juga mengasihi-Nya dan berpegang kepada perintah-Nya sampai kepada beribu-ribu keturunan.

Meskipun kita jatuh dalam pelanggaran dosa, Allah tetap mengasihi kita. Dia mengasihi kita bukan karena kita mampu “hidup kudus, setia dan melakukan kehendak-Nya”, melainkan karena Ia sangat mengasihi kita. Sebab itu, dalam berbagai kesempatan Ia selalu menawarkan “pertobatan/pengampunan” atas segala dosa dan kesalahan kita (bd. II Petrus 3 : 9). Tuhan mengasihi kita bukan karena kemampuan dan keberadaan kita (baca : usaha kita), tetapi Ia mengasihi kita karena Ia memang menghendaki kita agar menjadi seperti citra-Nya.

Bagaimana dengan kita sekarang ini ? Dewasa ini ada beberapa keluarga Kristen yang berniat atau bahkan sudah melakukan perceraian, padahal Tuhan berfirman, “apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Markus 10 : 9). Mereka berdalih karena : Sudah tidak cocok lagi, suami/isteri melakukan kesalahan, alasan ekonomi, dll. Persoalannya adalah, apakah mereka sudah lupa akan janji mereka di depan altar bahwa mereka akan selalu setia, saling mendukung/melengkapi atas kelemahan masing-masing, dan saling menerima dalam keadaan apapun (suka maupun duka ?).

Jika saat ini di lingkungan kita ada keluarga yang tengah merencanakan perceraian, oleh karena hanya menuruti keinginan-keinginan : kejengkelan, kecurigaan, kurang harmonis dan ketidak puasan, sebaiknya mereka kita ingatkan untuk kembali kepada “janji/ikrar” kepada Tuhan, yang telah diucapkan dan disaksikan oleh Pendeta, Majelis, Keluarga dan warga Jemaat. Bukankah janji kasih-setia saat pemberkatan pernikahan tersebut bersifat sacral, kekal dan berlaku sampai akhir hayat ?

Jika diantara kita memang sedang berbeban berat atas persoalan keluarga seperti ini, ada baiknya kita kembali memandang Tuhan dan janji-Nya. Bukankah Ia setia kepada janji-Nya ? Jika Tuhan dapat menerima kita apa adanya dan senantiasa memberikan pintu maaf atas berbagai dosa dan pelanggaran kita, bagaimana mungkin kita sebagai umat-Nya justru sebaliknya ? Ingatlah bagaimana Yesus juga pernah mengajak warga Yahudi untuk mengampuni seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Bagaimana ia secara hakiki mengatakan, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yoh. 8 : 7). Bagaimana pula dengan kita, apakah kita merasa bahwa kita tidak pernah berbuat dosa ?

Melalui Perjamuan Kudus Advent Natal ini, ada baiknya kita selalu mengingat janji Tuhan, betapa besar kasih setia-Nya kepada kita semua. Sebagai Raja di atas segala raja, “ yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib “ (Filipi 2 : 6-8). Jika Tuhan telah memberikan teladan bagaimana seharusnya hidup kita sebagai orang Kristen, yang harus mau dan rela berkorban, rendah hati dan mementingkan kepentingan orang lain juga, maukah dalam hidup kita juga sehati-sepikir dengan-Nya ?

Natal adalah berita sukacita atas kelahiran Sang Mesias, Sang Pembebas dari penjajahan dan belenggu dosa. Natal akan menghadirkan hidup kita shalom (damai sejahtera, bebas dari permusuhan/kebencian), asalkan kita mau menerima Yesus dan keluarga kita sebagaimana adanya. Selamat mesasuki Perjamuan Kudus Natal, Tuhan memberkati, Amin.