Kebenaran dibalik komunikasi

Bacaan : Yakobus I : 19 – 21
(Oleh Pnt. Endang Sudarti J. Tjipto, Bendahara III PHMJ, edited)

Surat Yakobus, yang terdiri dari 5 pasal di dalamnya tersirat berbagai petunjuk praktis tentang kehidupan kekristenan sehari-hari, baik yang berupa nasehat maupun ajaran. Bila dirinci, beberapa petunjuk tersebut berisi, antara lain : Bagaimana seharusnya orang Kristen memandang pencobaan (Yak. 1 : 12-15), Hubungan antara si kaya dan si miskin (Yak. 2 : 2-7), Petunjuk untuk tidak memfitnah manusia atau dosa karena lidah (Yak.3 : 5-6), Keangkuhan dan kerendahan hati (Yak. 4 : 6), Konsekuensi bila kita mementingkan kehidupan duniawi / harta benda (Yak. 5 : 2-3), dan Bagaimana menempatkan Hidup Kekristenan yang seharusnya (Yak.5 : 7-20).

Dalam kesempatan yang indah ini, penulis ingin mengajak segenap warga Jemaat untuk mencermati tentang sejauh manakah kita mempergunakan indera kita, khususnya telinga, dan lidah kita. Apakah kita sudah mempergunakannya sesuai dengan kehendak Tuhan ataukah belum. Tuhan menciptakan lidah (baca : mulut) dan telinga, sebagai indera ujung-tombak , khususnya untuk berkomunikasi yang baik dengan Tuhan dan sesama. Coba bayangkan, bagaimana proses komunikasi berlangsung jika diantara kedua belah pihak yang terlibat, yang satu tuli dan yang satunya bisu, bukankah sangat sulit ? Atau bisa jadi justru akan menimbulkan miskomunikasi atau pertengkaran akibat perbedaan cara pandang ? Bandingkan pula dengan kenyataan sehari-hari, orang yang kedua inderanya tersebut sehat-pun, juga tidak jarang bisa terjadi miskomunikasi. Padahal, agar komunikasi dapat berlangsung baik, kedua belah pihak hendaknya mau saling mendengar. Meskipun, beberapa orang cenderung menganggap kebutuhan/keterampilan mendengar ini sebagai sesuatu yang remeh, tidak perlu dipelajari atau bahkan diabaikan.

Mendengar memang kelihatannya mudah, tetapi jika kebutuhan mendengar itu untuk tujuan mendapatkan berita yang benar, menganalisa dan agar dapat memutuskan tindakan yang tepat, maka hal ini akan menjadi tidak mudah.

Mengapa ? Sebab saat kita mendengarkan informasi tertentu, sesungguhnya indera lain dan anggota-anggota tubuh lainnya juga ikut berperan. Untuk dapat mencerna informasi dengan benar, maka dibutuhkan pikiran yang jernih (positive thinking), sikap yang terbuka (open mind), dan empati (dapat menempatkan diri sebagaimana posisi, pikiran dan perasaan lawan bicara kita).

Sebagaimana pesan Yakobus, yakni : setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, maka ketika ada orang yang berbicara, sebagai orang Kristen hendaknya kita dengan sungguh mau menyendhengkan telinga kita dengan baik, sebelum kemudian menanggapinya. Bila kita belum jelas mengerti, segeralah meminta penjelasan dari si pembicara. Ketika pembicaraan belum selesai, hendaknya kita jangan buru-buru menyelanya agar apa yang disampaikan merupakan sebuah keutuhan informasi. Sebaliknya, bila seseorang tengah berbicara kemudian kita membantah, memotong percakapan, dan atau malah merasa dipojokkan sehingga merasa perlu membela diri, maka lawan bicara kita tentu akan merasa tidak didengar sehingga segan untuk meneruskan pembicaraan atau bila itu sebuah curahan hati maka ia justru tidak jadi menyampaikan perasaan hatinya. Akibat lainnya adalah : dapat memunculkan amarah atau perdebatan (kusir) yang tidak bermanfaat.

Teknik mendengar dengan baik di atas amatlah penting, khususnya untuk menghindari ketegangan yang mungkin muncul. Sebuah kesalahan umum dalam perdebatan adalah bila kedua belah tidak mau saling mendengarkan atau bahkan sama-sama berbicara demi memenangkan perdebatan tersebut. Hampir dapat dipastikan, bila hal ini terjadi maka ujung-ujungnya adalah amarah dan kata-kata kotor, sehingga tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Tuhan.

Sebagai warga masyarakat yang berada di tengah-tengah masyarakat yang majemuk (memiliki latar belakang, agama, kebiasaan, cara pandang, dan perilaku lainnya yang berbeda), termasuk dalam hal mendengar dan berbicara, ada baiknya kita menerapkan nasehat atau pengajaran Rasul Yakobus ini untuk selalu “cepat mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata”. Apalagi bila kebiasaan baik ini dilandasi dengan sikap rendah hati dan lemah-lembut, sebagaimana yang berulangkali disampaikan melalui firman-firmanNya. Bila posisi kita menjadi Panutan (mis. Kepala Keluarga, Orang Tua, Kakak, Pengurus Kelompok/Blok, Anggota Majelis, dll), maka kita tentu akan sering mendapatkan masukan/kritikan/curhat yang harus selalu kita dengarkan. Hanya dengan menerapkan tuntunan berkomunikasi yang baik ini, niscaya kita akan dapat melayani dengan baik, dan dengan demikian dapat mengerjakan kebenaran demi kemuliaanNya, Amin.