Menapaki Tahun 2009 bersama Yesus

Bacaan : Matius 14 : 22 – 32 / Nats. Ayat 27

(oleh : Pnt. Bowo M.H)

Tak terasa hari ini kita sudah melewati lebih dari 77 jam di tahun 2009. Pertanyaannya adalah : Adakah sesuatu yang menggembirakan/menyedihkan sudah terjadi atas diri kita selama 3 hari di tahun baru ini ? Jika sejenak kita memutar waktu ke belakang (setback), khususnya di tahun 2008, apa sajakah yang sudah terjadi atas kita semua ? Pengalaman suka/duka apa sajakah yang kita alami ? Adakah keajaiban/mujizat Yesus yang kita terima ?

Bila kita mencermati pengalaman iman orang-orang percaya atau tidak percaya tapi kemudian menjadi percaya, sebagaimana yang tercatat dalam Alkitab, tentu kita semua menjadi optimis. Misalnya : Matius yang semula bernama Lewi, rela meninggalkan pekerjaannya sebagai Pemungut Cukai dan mengikut Yesus (bd. Markus 2 : 14-17, Matius 9 : 9-13). Setelah bertemu Yesus, Zakheus rela memberikan setengah dari harta miliknya kepada orang miskin dan mengembalikan empat kali lipat harta orang-orang yang diperasnya (bd. Lukas 19 : 2-10). Setelah bertemu Yesus, Petrus (Kefas/kepha : batu, batu karang) yang semula bernama Simon (Simeon, Syim’on, syama ; mendengar), rela meninggalkan pekerjaannya sebagai penjala ikan (Lukas 5 : 1-11, Yoh.1 : 42). Seorang perempuan yang sudah 12 tahun mengalami sakit pendarahan, seketika menjadi sembuh hanya dengan percaya dan menjamah jumbai jubah Yesus (bd. Matius 9 : 20-22). Dengan mengatakan bahwa dosanya sudah diampuni, Yesus menyembuhkan orang yang lumpuh sejak lahir (bd. Markus 2 : 2-13). Karena percaya Yesus, kedua orang yang buta sejak lahirnya disembuhkan (Matius 9 : 27-30). Yesus menghidupkan Lazarus, saudara Maria dan Martha, yang sudah empat hari mati dan dikuburkan (Yoh. 11 : 37-44), dan masih banyak lagi.

Sesungguhnya, berbagai mujizat yang telah dilakukan oleh Yesus, pernah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”(bd. Lukas 4 : 17-19, Yesaya 61 : 1-2). Masalahnya adalah sudahkah janji-janji dan pertolongan-Nya, secara pribadi telah kita terima ? Jika kita mengartikan perbuatan Yesus sebatas secara harfiah saja, sebagaimana salah pengertian yang pernah dialami oleh orang-orang Yahudi, Ibu Yakobus dan Yohanes yang meminta agar kedua anaknya kelah diberi kedudukan untuk memerintah di sebelah kanan dan kiri (= menjadi orang-orang kepercayaan) Raja Yesus (Matius 20 : 20-23, 4 : 21) dan yang lainnya, tentu kita akan menjadi kecewa. Apalagi bila kemurahan yang diberikan oleh Yesus, secara teknis dikaitkan dengan : hidup tanpa masalah, harga-harga sembilan bahan kebutuhan pokok (sembako) dan Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak akan naik, selalu sehat, diberi rejeki yang melimpah sesuai keinginan kita, dan seterusnya.

Apa yang pernah dijanjikan oleh Allah terkait kedatangan-Nya dalam diri Yesus, memang tidak serta merta atau otomatis. Apalagi hanya terbatas kepada hal-hal yang bersifat harfiah dan teknis saja, melainkan jauh melebihi dari semua itu dan bahkan melampaui apa-apa yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya (terutama hidup kekal atau keselamatan kekal, yang hakiki dan dicari oleh orang-orang beragama di seluruh dunia). Keajaiban Kristus akan terjadi, disamping membutuhkan sikap re-aktif dari setiap orang percaya, termasuk mengusahakannya (baca : bekerja) tetapi yang terpenting adalah hidup yang senantiasa beriman hanya kepada-Nya. Memang, Tuhan akan memberkati secara jasmani atau memberikan tuaian yang banyak bagi orang-orang yang menabur banyak, tetapi sesungguhnya berkat yang tak ternilai yang lebih penting dari semuanya itu kadang sering kita abaikan, yakni : sikap rela hati, sukacita, berlimpah kasih karunia, berkelebihan dalam berbagai kebajikan, hidup dalam kebenaran dan buah-buah kebenaran firman-Nya, kemurahan hati untuk berbagi kepada semua orang, selalu mengucap syukur dan berdoa (bd. II Kor. 9 : 6-15). Bukankah Tuhan tidak pernah menjanjikan langit selalu berwarna biru, kesukaan tanpa air mata dan bunga-bunga selalu mekar dan tak pernah layu ?! Yang Tuhan janjikan adalah bahwa Ia akan memberikan jalan keluar dari setiap persoalan hidup kita, asalkan kita senantia dan mau berjalan bersama-Nya.

Seperti pula dalam teks perikop bacaan kita hari ini, pengalaman murid-murid Tuhan Yesus yang dengan mata dan kepala sendiri, melihat bagaimana berbagai mujizat dan kuasa telah ditunjukkan oleh Yesus, ternyata belum sanggup membuat mereka menjadi percaya sepenuhnya. Itulah manusia, selama kita masih hidup dalam kedagingan maka tarik-ulur akan kehendak Rohani dan Jasmani akan selalu terjadi ! Ketika perahu yang ditumpangi oleh para murid Yesus diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal, kira-kira jam tiga malam (= kawal keempat, antara jam 03.00 – 06.00 dini hari), dan di saat yang bersamaan Yesus datang dengan kuasa atas alam ciptaan-Nya ( = berjalan di atas air) untuk menolong mereka, Ia justru dianggap sebagai hantu. Hal ini jelas sekali menunjukkan bahwa : ketika bahtera hidup kita tengah mengalami berbagai gelombang kehidupan, kita lebih mengandalkan “usaha, pengertian dan pengalaman kita sendiri” daripada memohon pertolongan Tuhan. Akibatnya, ketika Tuhan datang dalam “kuasa dan cara-Nya sendiri, yang hanya terselami oleh iman”, kita justru menganggap-Nya sebagai “hantu yang menakutkan”.

Melihat kenyataan tersebut, ternyata Tuhan Yesus tidak marah tetapi dengan lembut Ia berkata,”Tenanglah ! Aku ini, jangan takut !” (Matius 14 : 27). Dalam hal ini, sesungguhnya Yesus sangat manusiawi, yakni memandang kedewasaan iman manusia sebagai sebuah proses penyangkalan dan penyerahan diri yang terus-menerus, sebab Iblis tentu tidak akan tinggal diam dan bahkan siap mengambil keuntungan saat kita tengah mengalami berbagai persoalan hidup. Sayangnya, seperti reaksi spontan yang ditunjukkan oleh Petrus, ketika melihat kuasa yang dilakukan oleh Yesus, tanpa sadar kitapun juga sering ingin “latah atau meniru” kuasa mujizat yang menjadi kedaulatan-Nya. Alhasil, dalam kebimbangan kita, kuasa itu tidak datang melainkan justru berbalik membahayakan hidup kita. Jika semula Petrus bisa berjalan di atas air, namun ketika ia kembali merasakan tiupan angin, ia menjadi takut dan mulai tenggelam. Masalahnya adalah, jika Petrus sempat meminta tolong kepada Tuhan Yesus, sehingga Ia mengulurkan tangan-Nya dan Petrus tidak jadi tenggelam, bagaimana dengan kita ? Sudahkah di tahun 2009 ini, kita juga mempersiapkan diri untuk hidup kita dan selalu melangkah bersama-Nya ?

Meresponi kenyataan ini, kehidupan iman Kristen, sekurang-kurangnya dapat dibagi menjadi empat, yakni :

  1. Iman Pokoke, yakni Pengalaman iman Kristen yang bukan berdasarkan kebenaran Kristus, melainkan seperti melompat dalam gelap. Iman seperti ini biasanya tumbuh diantara orang-orang Kristen keturunan. Fanatisme Kekristenan muncul bukan karena pengenalan akan Kristus, melainkan karena kepercayaan dan tradisi kekristenan yang telah mereka anut sejak dari nenek moyang mereka
  2. Iman berdasarkan akal, yakni Pengalaman iman yang tumbuh berdasar pengetahuan sepihak terhadap Kristus. Dalam hal ini, seorang Kristen mungkin hafal akan cerita Kristus atau ayat-ayat dalam Alkitab, tetapi secara pribadi tidak pernah berkomunikasi, bercaka-cakap kepada-Nya secara intensif dan terus-menerus (= berdoa, membangun saat teduh, menerapkan pengajaran-Nya dan mengevaluasinya, dll). Sebagai misal, pengenalan rakyat tentang Presiden, Walikota, dll. Secara pribadi tentu banyak diantara kita yang tidak saling mengenal, meskipun dalam Pilpres/Pilkada kita mencoblosnya sekalipun.
  3. Iman Sementara, yakni Pengalaman iman yang tumbuh ketika Allah menyediakan / memenuhi segala sesuatu yang bersifat sementara/duniawi saja ( mis.Rumah, mobil, uang, pekerjaan, isteri, anak, dll). Akibatnya, jika Allah tidak memenuhi hal-hal tersebut maka kita tidak lagi mempercayai-Nya.
  4. Iman Kristen yang Sejati, yakni Pengalaman iman yang tumbuh berdasarkan kebenaran firman-firman-Nya, termasuk siap untuk hidup berproses, berpadanan dan menjadi sempurna, sesuai kehendak-Nya (bd. Yoh. 14 : 6, Filipi 2 : 5-8, 3 : 10-12, Galatia 2 : 20, dll).

Nah, diantara keempat model iman Kristen tersebut, yang manakah model iman kita selama ini ? Jika hari ini kita mantap dengan Model Iman yang ke-4, niscaya Tuhan Yesus akan menyambut kita dan berkata, “Tenanglah ! Aku ini, jangan takut !”. Selamat memasuki tahun baru 2009, Tuhan memberkati, Amin.