SIAP MENJADI AGEN PENDAMAI DAN PEMERSATU

Bacaan : Efesus 4 : 30-32

Oleh : Pnt. Lasminingsih Soedjoko (Kabid II Persekutuan) edited

Dalam renungan minggu lalu ditegaskan kembali bahwa salah satu sebutan Yesus Kristus adalah Raja Damai, yang selalu siap untuk menyampaikan kabar baik, memberikan pembebasan bagi orang-orang yang tertawan (termasuk oleh kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah), membebaskan orang-orang dari sakit-penyakit, penindasan dan yang terpenting adalah memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang.

Demikian pula, bila sekarang ini kita sudah memasuki hari ke-25, di tahun 2009 ini, sudahkah kita sebagai para warga kerajaan-Nya siap menjadi agen pendamai dan pemersatu, sebagaimana yang diteladankan oleh Yesus Kristus ? Apakah kita juga meyakini bahwa di tahun 2009 ini juga merupakan tahun rahmat dari Tuhan ?

Untuk menjawab pertanyaan refleksionis (mawas diri) tersebut, ada baiknya kita mulai dengan memejamkan mata 1-2 menit, kemudian mengingat-ingat perjalanan hidup kita : sejak lahir, mulai bias berbicara dan berinteraksi, sekolah, bekerja dan sudah berapa lamakah kita menjadi Kristen, apa sajakah yang selama ini sudah kita perbuat, apakah lebih banyak menjadi agen pendamai dan pemersatu, ataukah justru sebaliknya ?

Siapapun diantara kita sejujurnya tentu tidak suka mencari musuh atau masalah. Sayangnya, kesombongan dan keinginan untuk menang sendiri (egoistis), kerap kali tumbuh dan menjadi pemicu terjadinya pertengkaran. Bahkan ada orang yang karena dalam kehidupannya kurang pergaulan, kurang perhatian dan tidak memperoleh ruang untuk pertumbuhan social-emosionalnya secara sehat, maka ia bertumbuh menjadi orang yang egois, dalam sepak terjangnya selalu memunculkan konflik/masalah dengan siapa saja (Trouble maker). Jika kita bertemu dengan orang tipe ini, reaksi apa yang kita lakukan ? Tentu tidak senang atau bahkan lebih baik menjauh bukan ?

Memang, untuk mengejar damai dan bersatu tidak mudah, sehingga perlu diupayakan sedemikian rupa. Paling tidak dapat kita mulai ditengah-tengah keluarga kita, persekutuan lingkungan terkecil (RT/kelompok warga gereja), lingkungan kerja / sekolah kita, dan seterusnya ke dalam lingkungan yang lebih luas. Upayakan dalam setiap kesempatan untuk menjaga hubungan dengan sesame kita, agar kasih Tuhan senantiasa terpancar dalam kehidupan kita.

Bagaimana jika hal tersebut sudah kita lakukan, tetapi konflik dan permusuhan tetap terjadi ? Dalam hal ini Alkitab menasihatkan agar kita tidak jemu-jemu untuk berbuat baik, melakukan rekonsiliasi dan saling mengampuni/memaafkan. Dalam hal mengampuni saudara kita ini, Petrus pernah menanyakan kepada Yesus, Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku ? Sampai tujuh kali ?” .Yesus berkata kepadanya: “Bukan ! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali (Matius 18 : 21-22). Jelaslah di sini bahwa kita wajib mengampuni sesama kita selama hidup kita.

Berbeda pendapat itu wajar, berselisih itu juga normal dalam suatu hubungan, termasuk dalam kehidupan orang percaya. Namun jika kita mau menahan diri, berinisiatif untuk membereskan setiap konflik/masalah, maka cepat atau lambat pasti hidup pergaulan kita akan menjadi nyaman dan damai. Kita akan senantiasa menghadirkan “Syalom, damai” di manapun berada.

Sekali lagi, kepada siapapun bila terjadi hubungan yang rusak, jangan menunggu pihak lain yang mendatangi kita melainkan ambillah inisiatif untuk menjadi penyelesai masalah terlebih dahulu. Berusahalah untuk selalu rendah hati, dan mengingat bahwa kita ini adalah para pengikut Kristus yang wajib untuk menjadi agen pendamai dan pemersatu.

Akhirnya, marilah dalam menyongsong tahun 2009 ini dan tentu tahun-tahun selanjutnya, kita tingkatkan kualitas iman kita dari hari demi hari, seraya mengingat firman Tuhan : hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. Amin.