Sekali Pendeta tetap Pendeta!

Idiih…kayak zaman perjuangan aja…, tapi memang inilah yang kini sedang diperjuangkan oleh Vikar Lantikaningrum Purbasari, S.Si atau biasa dipanggil TIKA, yang kini tengah menjalankan Masa Vikariatnya yang ke-2 di GKJW Jemaat Surabaya yang kita cintai ini. Selanjutnya, agar perkenalan kita dengan “Calon Pendeta Perempuan GKJW” ini, terkesan lebih akrab maka cerita selanjutnya akan kami sajikan dalam gaya bahasa Aku (Vikar Lantikaningrum-red). Selamat membaca……

Sejak aku terlahir dari rahim Ibu Dwi Wahyuningtyas, 23 tahun lalu, sebagai tika1sulung dari 2 bersaudara aku memang banyak mendapatkan limpahan kasih sayang keluargaku. Ayahku, Suntiarno, adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) sehingga untuk ukuran warga Desa Peniwen, Kromengan, Malang tergolong berkecukupan. Sebagai Keluarga Kecil Kristiani yang terdiri dari Ayah, Ibu dan 2 anak, Keluargaku termasuk yang beruntung. Sebab selain dapat memenuhi program Keluarga Berencana (KB) yang pernah dicanangkan oleh Pemerintah Orde Baru, adikku satu-satunya, Wahyu Prakosa adalah laki-laki.

Ketika usiaku menginjak 4 tahun, aku sudah disekolahkan di Taman Kanak-kanak (TK) YBPK Peniwen 01. Maklum, meski usiaku baru 4 tahun namun saat itu badanku sudah cukup besar, lincah dan sudah bisa menyanyikan beberapa lagu. Alhasil, jika biasanya anak-anak sebayaku harus menjalani pendidikan di TK selama 2 (dua) tahun, aku hanya butuh waktu 1 (satu) tahun, dan kemudian diperbolehkan memasuki bangku SDN Peniwen 01.

Meskipun aku sekolah di SD Negeri, namun pergaulanku sehari-hari kental dengan nuansa kekristenan, sehingga dasar-dasar pengajaran Kristen kokoh mempengaruhi kehidupanku selanjutnya. Apalagi Desa Peniwen kan mayoritas penduduknya beragama Kristen.

Suatu hari ketika aku masih duduk di kelas 4 SD, dalam sebuah acara kebaktian di Gereja yang dilayani oleh Pdt. Ibu Yuli Mardiati, S.Th (Pdt. Sumber Pucung saat itu), apa yang dikotbahkan oleh Ibu pendeta tersebut sungguh mengusik kalbuku. Serta merta, hati kecilku mulai tumbuh benih-benih cita kalau besar kelak akupun juga ingin menjadi Pendeta. “Sebagai seorang Pemimpin dan Gembala Jemaat perempuan, yang kala itu masih jarang, kayaknya merupakan posisi yang sangat menantang dan oleh karenanya patut diperjuangkan,” itulah kata hatiku saat itu.

Begitu pulang dari kebaktian dan menyampaikan cita-citaku untuk menjadi seorang pendeta (GKJW) kepada orang tuaku, ternyata ayahku sangat mendukung keputusanku tersebut. Dengan bijak, beliau menasihatiku agar giat belajar dan berprestasi guna meraih cita-citaku yang mulia ini. Oleh sebab itu, begitu aku lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) 4 Kepanjen, dan Sekolah Menegah Atas (SMA) 1 Kepanjen, Malang, tak sabar aku segera mohon restu Ayah dan Ibuku untuk melanjutkan studi lanjut (kuliah) di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, dan mengambil Jurusan Theology.

Memang, sebagai gadis desa yang tumbuh ditengah-tengah budaya yang cenderung menomor satukan laki-laki (patriakaat), tentu gerak langkahku tidak selalu mulus. Namun dengan bermotokan, “Hidup bagai mendaki gunung, penuh perjuangan tapi tetap targetkan puncak”, dan berpegang pada ayat emas Filipi 4 : 13, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”, aku terus melaju, membekali diri dan siap memperjuangkan cita-citaku menjadi seorang pendeta perempuan di GKJW.

Sebagai bentuk kecintaanku terhadap pelayanan, saat di Peniwen aku pernah beberapa tahun menjadi Pamong Anak dan Remaja (baca : Guru Sekolah Minggu). Sebab itu, di sela-sela kuliahku di UKDW, aku sudah tidak canggung lagi untuk melibatkan diri dalam pelayanan sekolah minggu di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Condong Catur dan GKJ Gondokusuman, yang dekat dengan kampusku. Untuk menjaga tubuhku agar tetap sehat dan penuh vitalitas, aku juga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olah raga bela diri Tae Kwon Do.

Jika saat ini tubuhku “mekar” ke samping, barangkali ada hubungannya dengan kegemaranku makan bakso, serta hobiku berkutat dengan buku, novel, komik dan bacaan lainnya. – Ketika masih kuliah dulu, badanku atletis dan langsing lho…hanya, setelah aku mulai jarang berolah raga dan mengurangi aktifitas fisik…ealah, kini badanku jadi langsung he..he – .Ditambah lagi, waktu menjadi mahasiswa Pra Stage di GKJW Jemaat Pasuruan dan Stage di GKJW Jemaat banyuwangi, aku jarang sekali mengalami “kesulitan” yang mengharuskanku banyak olah fisik.

Setelah lima tahunan aku menjalani kuliah dan lulus dari UKDW, aku sudah tak sabar untuk segera terjun ke tengah-tengah Jemaat. Oleh karena jiwaku dan lingkungan hidupku sejak kecil (field of experience) sudah menyatu dengan budaya dan pola pelayanan di GKJW yang unik, sengaja aku tidak mendaftar untuk menjadi pendeta di Gereja lain. Begitu aku pulang kembali dengan menggondhol hasil pembelajaranku di UKDW yakni Gelar Sarjana Sains (S.Si), aku segera mendaftarkan diri untuk menjadi calon Pendeta GKJW. Bak gayung bersambut, aku disambut dengan sukacita oleh Majelis Agung GKJW, yang kemudian menempatkanku untuk menjalani masa vikariatku yang pertama di GKJW Jemaat Tempurrejo, Lumajang.

Sebagai vikar yang terlahir dan dibesarkan di daerah pedesaan, selama 8 (delapan) bulan menjalani vikariat-ku di Desa Tempurrejo, hampir semua kegiatan pelayanan dapat aku lalui dengan baik. Apalagi suasana pedesaan yang hijau menghampar pas dengan warna hijau kesukaanku. Sebagai vikar perempuan, seperti pula istilah Ladies First (mendahulukan kaum perempuan) dan Sex Appeal (kaum perempuan secara alami lebih diperhatikan ketimbang kaum laki-laki), selama bersosialisasi di Jemaat Tempurrejo dan Jemaat Sekitar (Jemaat Argosari, Tempursari, dll), aku banyak mendapatkan tanggapan yang positip ketimbang yang negatip. Hampir semua warga desa siap membantu segala keperluanku, dan bersikap ramah. Konsekuensinya, waktu 8 bulan yang kujalani bersama mereka rasa-rasanya seperti 8 hari saja.

Dalam menghadapi berbagai tantangan, khususnya masyarakat pedesaan yang masih kental dengan nuansa magis dan mistik, aku berusaha untuk mengkomunikasikan firman Tuhan secara kontekstual dan secara perlahan menggiring pemahaman mereka akan kebenaran firmanNya. Sedangkan terhadap berbagai masukan/kritik yang membangun, aku berusaha untuk memandang hal itu sebagai wujud perhatian dan kasih sayang mereka kepadaku. Dengan begitu, aku terus terpacu dan melaju menuju pemahaman yang holistik (menyeluruh) atas berbagai bentuk sikap, dan pola pikir masing-masing orang, yang semakin memperkaya wawasanku ke depan.

Sebagai calon pendeta perempuan yang akan melayani di tengah-tengah masyarakat yang berbudaya patriakaat, tentu aku harus bersikap empan-papan dan bijak, sebab dalam era emansipasi ini peran dan fungsi perempuan semakin terbuka. Apalagi budaya patriakaat biasanya hanya berkutat terkait masalah ekonomi dan kedudukan.

Setelah selesai vikariatku yang pertama di GKJW Jemaat tempurrejo, dan mendengar kabar bahwa vikariatku yang kedua di GKJW Jemaat Surabaya, – yang notabene merupakan Jemaat metropolis, warga Jemaatnya 3 kali lebih banyak, dan latar belakang Jemaatnya sangat bervariasi-, jujur aku sedikit mengalami Culture Shock (Kejutan akibat perbedaan budaya). Namun, begitu menginjakkan kaki di Jemaat ini tanggal 30 Januari lalu, ternyata apa yang aku kuatirkan tidak terjadi. Pdt. Sri Hadijanto, beserta anggota PHMJ dan karyawan, yang menyambut kami ternyata ramah-ramah. Harapanku, sebagaimana langkah kakiku yang pertama telah disambut oleh keramahan dan sajian yang begitu menggoda, aku juga berharap kalau kehadiranku di tengah-tengah Jemaat sekitar 6 (enam) bulan ke depan juga disambut hangat oleh warga Jemaat di sini. “Aku akan berusaha memberi yang terbaik, memberi manfaat yang sebesar-besarnya dan berjuang demi semakin tumbuh-kembangnya pelayanan di sini…”, demikianlah ikrar dan tekadku.

Oh ya.. hampir lupa ! Bagi warga Jemaat yang ingin menyapaku, dipersilakan Telp ke gereja (031-5023302) atau Telp/SMS di HP-ku No. 085259418439 atau berkunjung di Pondok Kasih Gereja, tempatku bermukim sekarang ini. Kiranya Tuhan menyertai kita semua, Amin (B-1).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s