Melayani Tuhan dengan Karunia berdoa

Bacaan : Lukas 2 : 36-37
(Oleh : Pnt. Indradi, Kabid V Penatalayanan)

Ilustrasi

Hari itu adalah hari Minggu. Dalam sebuah gereja tua, seorang Pendeta yang sangat disegani oleh karena kotbah-kotbahnya tengah memimpin sebuah kebaktian umum. Seperti biasanya, dengan berapi-api Pak Pendeta berusaha menyampaikan kebenaran firman Tuhan, sembari memotivasi warga Jemaat agar memahami firman yang disampaikan dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hampir semua warga yang mendengarkan kupasan firman yang disampaikan tampak manggut-manggut tanda setuju dan memahami maksud kotbah yang disampaikan oleh Pak Pendeta.

Setelah kotbah usai, dilanjutkan dengan doa refleksi. Semua warga Jemaat terlihat menunduk dan khusyuk dalam sebuah refleksi mengenai inti pengajaran firman Tuhan yang baru disampaikan Vs bagaimanakah perilaku mereka sehari-hari, apakah selama ini sudah sesuai atau belum. Dalam keheningan doa tersebut, tiba-tiba Pak Pendeta melihat sesosok cahaya putih yang menyilaukan berjalan masuk dari pintu depan gereja menuju ke arahnya. Ternyata…cahaya putih tersebut tidak lain adalah malaikat Tuhan yang di tangannya sedang memegang sebuah mahkota yang indah sekali. Dengan jantung deg-degan, Pak Pendeta sontak berpikir, “Ehm…ternyata Tuhan sungguh mengasihiku. Kini Dia mengirimkan sebuah mahkota kehidupan untukku…oh, puji Tuhan ternyata jerih lelahku selama ini tidak sia-sia. Bukankah gereja ini berkembang pesat juga karenaku ?.”

Dengan hati meluap dan sesak, sambil menunggu Malaikat menghampirinya, Pak Pendeta tadi pura-pura tidak tahu akan kehadiran Malaikat Tuhan ini. Ia terus melanjutkan doanya. Setelah beberapa saat menunggu tetapi malaikat Tuhan tak kunjung memberikan mahkota kepadanya, dengan hati penasaran Pak Pendeta mencoba membuka matanya untuk melihat sudah sampai di manakah Malaikat tadi. Betapa terkejutnya Pak Pendeta mendapati kenyataan bahwa Malaikat Tuhan itu ternyata sudah melewatinya, dan berjalan kembali berkeliling ke semua warga Jemaat. Dengan sedikit kesal, Pak Pendeta berkata dalam hatinya, “Lho…kok dia tidak segera memberikan mahkota tersebut kepadaku ?!.“

Setelah terpaku oleh suasana yang begitu menegangkan, akhirnya Pak Pendeta mendapati kenyataan yang tak diduga sebelumnya. Ternyata malaikat Tuhan tersebut memberikan mahkotanya kepada seorang wanita tua yang duduk di deretan bangku paling belakang. Dengan gusar, kemudian Pak Pendeta protes kepada Tuhan dalam hatinya, “Tuhan, malaikat yang Kauutus ini ternyata salah menempatkan mahkota !!!“. Kemudian Tuhan menjawab,“Tidak anak-Ku. mahkota itu memang Aku perintahkan untuk dipakaikan kepadanya, sebab setiap hari ia selalu berdoa dengan sungguh-sungguh untuk jiwa-jiwa yang terhilang. Hatinya diliputi oleh belas kasihan. Sedangkan engkau ?! …Engkau lebih disibukkan oleh hobimu dan berkotbah dengan baik karena tugasmu saja. Bukankah kamu lebih memilih mendapatkan pujian karena kehebatan kotbah-kotbahmu ketimbang menangisi jiwa-jiwa yang sedang berada dalam kegelapan ? Dan ketahuilah, sebenarnya gereja ini tumbuh dan berkembang bukan karena kehebatan kotbah-kotbahmu, tetapi karena doa wanita tua ini..“.

Ilustrasi ini menggambarkan pula tentang kehidupan Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dalam kisah ini, kita boleh belajar tentang bagaimana Tuhan sangat menghargai doa-doa yang kita panjatkan.

Ketika usia kita menjadi tua, ketika tenaga kita berkurang dan tulang-tulang kita menjadi rapuh, sering kita merasa bahwa kita ini sudah tidak mungkin melayani Tuhan dan menjadi orang yang tidak berguna. Kemudian kita berpikir : Menjadi guru sekolah minggu tidak bisa; ikut pelayanan penginjilan, encok dan rematikku sering kumat; menjadi anggota paduan suara Jemaat, sering diomeli karena suara yang sudah sumbang; berjalan kaki agak jauh, kaki terasa ngilu dan hampir copot; lantas…bagaimana aku dapat melayani Tuhan ?

Melalui ilustrasi ini, kita boleh belajar bahwa kita masih bisa melayaniNya yakni dengan : BERDOA DAN BERPUASA ! Sebagaimana Hana yang siang-malam selalu berdoa dan berpuasa, memohon belas kasihan Tuhan akan banyaknya jiwa-jiwa yang terhilang, agar Tuhan mengembalikannya untuk bersama-sama memuji dan memuliakan-Nya di dalam gereja !

Akhirnya, selagi kita masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan, marilah kita mempergunakannya untuk berdoa dan berpuasa. Ingatlah bahwa, saat ini dan ke depan tantangan dunia ini semakin dahsyat, dan hal ini tidak dapat kita hadapi dengan kekuatan apapun, kecuali hanya berserah dan memohon penyertaan-Nya dengan senantiasa berdoa, Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s