“Tak Kenal Maka tak Sembuh”

Bacaan : Markus 6: 53-56 (nats: 54)
“Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ.Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada. Ke mana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.”.

“Tak kenal maka tak sayang”, ungkapan tersebut tentu tidak asing bagi kita. Namun dari bacaan kali ini bukan hanya sekedar sayang, tapi kisan ini menggambarkan “tak kenal maka tak sembuh”, kok bisa? Mari kita baca kisahnya…
Bacaan hari ini mengisahkan Tuhan Yesus dan para rombongan, yang tiba di daerah Betsaida, bagian utara danau Galilea (lih. Peta alkitab pada masa Tuhan Yesus). Perjalanan menuju kota tersebut adalah pengalaman yang mengesankan bagi para murid, karena ditengah perjalanan perahu mereka diterjang badai, dan hampir tenggelam, dan mereka selamat ketika Tuhan Yesus hadir di atas perahu, setelah berjalan di atas air. Saat baru mendarat orang-orang sudah menegali Tuhan Yesus, kemudian berlari-lari mengusung saudara dan para kekasih mereka, hanya agar mereka dapat menyentuh jumbai jubah Tuhan.
Jika kita membaca bacaan ini dari sudut pandang Tuhan Yesus dalam karya dan mujijatnya, kita tidak akan menemukan sesuatu yang lebih menonjol dari kisah-kisah penyembuhan Tuhan Yesus lainnya. Karena itu kali ini kita diajak melihat dan memperhatikan dari sudut pandang orang-orang yang mencari penyembuhan. Mari kita perhatikan ayat nats : “Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus”. Mari kita perhatikan lebih dalam kata ‘mengenal’.

Ada 2 kemungkinan penjelasan terkait dengan kata ‘mengenal’:
1. Orang-orang mengenal Tuhan karena sebelumnya Dia pernah singgah di kota itu (bdk. Markus 6: 6b-13)
2. Orang-orang di daerah itu pernah mengikuti Yesus dan mendegar pengajaran-Nya.

Terlepas dari kedua kemungkinan tersebut, jika kita telisik dari bahasa aslinya, mengenal bukan sekedar tahu, seperti ‘saya tahu warna baju mama’, tapi mengenal (epiginoskō) yang berarti memahami, akrab, kharib. Kesembuhan dan semangat yang membara itu tumbuh saat orang-orang itu melihat dan mengenal Yesus. Bukan sekedar tahu, tetapi mereka merasakan kedekatan, dan keterpautan dengan Tuhan Yesus. Karena itulah saat pertama melihat-Nya turun dari kapal, mereka kemudian berlari-lari mengusung kekasih mereka agar dapat disembuhkan. Sebuah pengenalan yang mendalam, dapat membangkitkan semangat bahkan membuat orang-orang Betsaida, tidak hanya berjalan untuk dapat emndekat pada tUhan, melainkan emreka berlali. Sungguh sebuah tindakan yang luar biasa.
Pengenalan yang tepat pada orang yang tepat, membuat orang-orang Betsaida menyadarkan pengharapan mereka kepada sosok yang tepat, yaitu Tuhan Yesus. Bayangkan, jika mereka tidak mengenal Tuhan Yesus, apa yang terjadi? Ketika kapal itu bersandar dan rombongan Tuhan Yesus turun dari kapal, tentu mereka akan membiarkan begitu saja Tuhan berlalu dari hadapan mereka dan tidak ada kesembuhan bagi siapapun. Sepenting itulah pengenalan..
Demikian halnya dengan kehidupan kita saat ini, kesibukan kerja, rumah tangga dan bahkan dalam pelayanan sering membuat kita merasa kehabisan waktu dan tenaga. Namun tidak hanya cukup sampai di situ, kita perlu mengingat hal yang mendasar, bahwa kita ‘hidup’ pertama-tama karena Tuhan yang menyatakan karya kasih-Nya dapat kita dapat kenal. Dan mengenal buikanlah proses yang ‘mandeg’, melainkan sebuah proses yang berkelanjutan dan terus-menerus dalam hidup kita. Caranya? Ada banyak hal, intinya kita harus terus menerus medengar Firman Tuhan. Terkait dengan cara dan tuntunan untuk mendengar dan melekatkan diri pada Tuhan, setiap saat, di waktu ibadah minggu, iabdah kelompok, pemuda, remaja, anak-anak, kita sudah mendengar caranya. Jadi, yang harus dilakukan adalah melakukan tuntunan itu dalam kehidupan kita.

Nah… kalau sekarang ada yang ingin sembuh, sudah tahu caranya kan?
Oleh Vik. Wahyu Esti Rahayu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s