Menjelang Paskah, sudah PAS-kah sikap kita?

Bacaan  : Lukas 23: 26-32

“Mama, Tuhan Yesus kasihan ya…sudah berdarah masih saja di pukul…”, kata Sasa kepada mamanya, sambil sesenggukan.

Masa paskah, identik dengan kesedihan. Apa lagi saat menonton film tentang penyaliban, seperti Passion of the Christ, atau film sejenis itu. Tidak sedikit orang yang akan berderai-derai air mata, seperti halnya Sasa. Rasa sedih atau trenyuh muncul dari rasa kasihan terhadap orang lain. Dalam kasus ini, berarti kita seringkali merasa kasihan pada seorang manusia yang menanggung derita begitu berat.

Tapi,,,tunggu dulu, apa itu pas kita lakukan?

Rasa kasihan terhadap derita atau tubuh yang luka, tanpa kita sadari menjadi perwujudan dari rasa ‘aku lebih kuat’. Seperti yang terjadi di infotainment yang menyuguhkan drama, di mana orang yang lemah dengan penuh belas kasih menolong orang yang lebih lemah. Hal itu menunjukkan, penolong tersebut sekalipun lemah memiliki daya lebih dari yang ditolong. Jadi, apakah pas jika kita kasihan kepada Yesus? Yang perlu kita perhatikan adalah, kita tidak sedang berbicara tentang salah dan benar, tetapi pas dan tidak pas, berarti hal ini tidak terkait ‘rasa’.

Kembali kepada sikap yang pas atau tidak pas, pas-kah rasa kasihan itu ada? Jika kasihan itu secara tidak langsung menggambarkan level yang lebih tinggi, nyatanya Kristuslah yang mengasihani kita. Bahwa derita dan luka yang ditanggung bukanlah wujud dari kelemahan-Nya, melainkan bukti nyata bahwa Dia yang paling kuat diantara kita, karena iti Dia mampu menanggung apa yang tak mampu kita tanggung. Senyatanya kematiaan-Nyalah yang mendatangkan hidup bagi kita, anda dan saya.

Ketika kita menitikkan air mata untuk kesakitannya, Kristus justru mengingatkan kita “…”Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!”, “Tangisilah dirimu sendiri…”, itulah yang dikatakan Tuhan Yesus. Sebuah pesah yang dalam, menuntun pada sebuah kesadaran bahwa kitalah yang celaka, bahwa kitalah yang berdosa. Maka air mata itu tidak lagi pas jika kita tujukan untuk Dia, tetapi hendaknya kita tujukan untuk diri sendiri. Dan dengan kalimat itu Tuhan Yesus ingin mengingatkan kita bahwa sesungguhnya kematian-Nya yang penuh kasih itu tidak serta merta membuat kita bahagia dan bebas dari derita. Penderitaan dan godaan akan tetap menerpa, karena itu pula, hendaknya kita tetap perlu mengarahkah rasa kasihan pada diri sendiri.

Peristiwa paskah seyogyanya tidak lagi menjadi moment untuk menangisi Anak Manusia yang menjadi korban tirani. Tetapi seharusnya menjadi titik balik bagi kita masing-masing untuk nlangsani  hidup kita yang hingga saat ini masih bergumul dengan dosa. Bahwa kitalah yang lemah dan perlu terus menerus mawas diri, memohon tuntunan dari Dia yang kuat. Bukan untuk menjadi ‘pemenang’ dengan mengalahkan sebanyak mungkin halangan hidup ini, melainkan dengan penuh penyerahan diri berjalan bersama Sang Penuntun.

Tangisi dirimu…tangisilah… Bukan hanya dengan titik air mata di pelupuk mata, melainkan dengan sikap hati yang sungguh-sungguh sadar akan kelemahan dan dosa, dan karena itu kita perlu Penolong, Juru Selamat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s