SALAH MENILAI

office_gosip

Di sebuah kota di Yunani, tinggallah seorang lelaki tua yang kaya. Ia memiliki 3 orang anak, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Sepanjang hidupnya, lelaki tersebut sudah bekerja keras hingga menjadi seorang pengusaha yang sangat disegani di kotanya. Bahkan dari anak-anak hingga orang tua sangat mengenal dan mengaguminya. Bukan semata-mata oleh karena kekayaannya, tetapi lebih karena kedermawanannya, sikapnya yang baik, ramah dan rendah hati.

Sayangnya, isteri yang sangat dikasihinya, telah mendahuluinya dipanggil Tuhan oleh karena sakit yang tidak ada obatnya. Sepeninggal isterinya, hari-harinya menjadi terasa kurang, semangatnya menjadi kendor dan bahkan kesehatannya pun berangsur-angsur menurun. Memang, segala daya telah dilakukan oleh ketiga anak-anaknya, yang dengan setia selalu memberinya perhatian dan semangat hidup.

Namun demikian, karena begitu sayangnya kepada sang isteri, apapun yang dilakukan oleh ketiga anak-anaknya terasa hambar dan kurang berarti. Hingga tibalah suatu sore, ia memanggil ketiga anak-anaknya, ditengah-tengah kondisi sakitnya yang semakin parah.

Dalam kesempatan ini, sang ayah ternyata memberikan surat wasiat, yang berisi pembagian warisan kepada ketiga anak-anaknya. Anak yang pertama mendapatkan perusahaan yang selama ini menjadi sumber penghasilan bagi keluarga mereka. Dengan sangat sukacita, sisulung pun berjanji untuk mengelola perusahaan tersebut dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya, tibalah giliran anak yang kedua. Ternyata ia mendapatkan warisan perkebunan yang sangat luas. Dengan sukacita, ia pun berjanji untuk mengelola perkebunan tersebut dengan baik. Dan tibalah kini giliran anaknya yang ketiga atau si bungsu, yang merupakan satu-satunya anak perempuan di keluargaitu.

Dengan agak gemetar, si bungsu pun maju mendekati ayah mereka. Rupanya sang ayah tidak memberikan apa-apa kecuali sebuah Alkitab kepadanya. Dengan penuh harap, sang ayah pun berpesan agar ia mau membaca Alkitab tersebut setiap hari, sebab di dalamnya terkandung rahasia kesuksesan hidup. Dengan agak kecewa, si bungsu pun berjanji untuk melakukan amanat ayahnya tersebut sebaik-baiknya. Meskipun ia sangat marah dan sedih, namun demi menyenangkan hati ayah mereka ia pun berusaha untuk tetap tersenyum. Setelah ketiganya mendapatkan warisan, tidak berapa lama kemudian, sang ayah pun meninggal.

Singkat cerita, beberapatahun kemudian Si Sulung pun telah Berjaya dalam mengembangkan perusahaan ayahnya. Ia pun juga sangat disegani di kotanya, sebab selain kini ia lebih kaya disbanding ayahnyadulu, ia pun dikenalsebagai orang yang baik, ramah dan dermawan. Demikian pula yang terjadi dengan anak kedua. Ia pun juga telah berhasil mengembangkan perkebunan warisan ayahnya. Bahkan, hamper setiap tahun hasil kebunnya selalu melimpah, sehingga selain banyak menyerap tenaga kerja, juga menjadi sumber rejeki bagi masyarakat di sekitar perkebunan.

Bagaimana dengan si bungsu ? Sejak ia menerima Alkitab dari Sang Ayah, ia pun menjadi sedih dan murung. Hari-harinya dipenuhi dengan kepahitan dan kekecewaan terhadap ayahnya. Ia merasa diperlakukan tidak adil oleh ayahnya, bahkan saking marahnya ia sama sekali tidak mau membaca Alkitab atau sekedar mengunjungi makam ayah dan ibunya.

Hingga suatu hari, ketika ia sedang bersih-bersih di kamarnya, ia menemukan Alkitab yang pernah dibuangnya dulu di pojok kamarnya. Alkitab itu kini telah berdebu dan sangat kotor. Dengan penasaran, ia mencoba membukanya secara perlahan-lahan. Dari halaman kehalaman, ia pun membacanya namun ia pun tidak menemukan hal yang istimewa. Tak berapa lama tibalah ia ditengah-tengah halaman, rupanya di sana ada kertas pembatas Alkitab. Ia pun kemudian menariknya, dan betapa terkejutnya ia manakala membaca pembatas Alkitab tersebut. Rupanya pembatas Alkitab itu bukan sekedar kertas biasa, melainkan sebuah cek yang bernilai sejumlah uang yang sangat besar, dibandingkan dengan nilai perusahaan dan perkebunan yang telah di wariskan kepada kakak-kakaknya.

Menyadari hal ini, si bungsu sontak menangis dan sangat menyesali perbuatannya selama ini. Betapa ia telah salah menilai kasih ayahnya kepadanya. Kini nasi telah menjadi bubur, namun ia berjanji untuk menebus kesalahannya itu dengan selalu membaca Alkitab setiap hari, seperti yang dipesankan oleh ayahnya (BMH,012013).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s