Pelayanan Vs Persembahan

I Tawarikh 16 : 29

Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah menghadap Dia! Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan.

         Ada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa, “Uang receh selalu mengeluarkan suara … tetapi uang kertas selalu diam. Jadi, ketika nilai diri Anda meningkat, jagalah diri Anda diam dan rendah hati (Coins always make sounds…but paper moneys are always silent. So, when your value increases, keep yourself silent and humble)”. Serupa tapi tak sama dengan ungkapan tersebut, kita juga memiliki ungkapan, “Tong kosong berbunyi nyaring, Tua-tua keladi, tuanya padi semakin tua semakin menunduk, Tuanya kelapa, semakin tua semakin banyak santannya, dll”.

            Jika kita tarik “benang merah” atau keterkaitan diantara beberapa ilustrasi tersebut di atas, jelas sekali makna dibalik ungkapan tersebut menyiratkan pesan moral bahwa dalam hidup ini kedewasaan (pikir, karsa, cipta) seseorang, akan kelihatan dari cara dia berekspresi dalam kehidupannya sehari-hari. Semakin seseorang itu bernilai atau bertumbuh menjadi lebih dewasa, maka ia tidak lagi mendasarkan pada apa yang kelihatan, tetapi justru dari sikap hidupnya yang tenang dan rendah hati, banyak berbuat tetapi merasa sedikit berjasa, banyak memberi tetapi merasa belum cukup, banyak bersyukur tetapi tidak menuntut, banyak meneladani tetapi merasa belum sempurna, banyak berjasa tetapi merasa belum berbuat, dan seterusnya.

            Sikap hidup sebagaimana ilustrasi tersebut, bagi orang Kristen sesungguhnya bukan hal baru. Hal ini berkaitan dengan sikap hidup inti yang seharusnya mendasari kekristenan, sebagaimana yang Tuhan Yesus telah ajarkan kepada kita semua, yakni berkaitan dengan 2 kata kunci (keywords) yakni Pelayanan dan Persembahan.

              Menurut KBBI, Pelayanan berkaitan erat dengan sebuah cara, usaha untuk memenuhi kebutuhan orang lain dan berbagai bentuk kemudahan yang dapat diberikan (baik berupa barang atau jasa). Sedangkan Persembahan, berkaitan erat dengan pemberian sesuatu yang berharga kepada pihak lain yang lebih terhormat atau memiliki kedudukan yang lebih tinggi, memberikannya disertai sikap hormat, dan sebagai bentuk ungkapan syukur atau terima kasih (atas jasa, budi, kebaikan, kemurahan, pengampunan, belas kasihan, dll yang pernah dilakukan oleh seseorang).

              Bagaimana sikap hidup kita sebagai orang Kristen ? Bagaimana pula jika hal ini dikaitkan dengan makna pelayanan Vs Persembahan, yang biasa kita berikan ? Untuk menjawab pertanyaan ini, sesungguhnya kita semua sudah sering diingatkan oleh Ensign Edwin Young dan Harry E.Storrs melalui syair lagu “Have I Done My Best for Jesus ?” atau dalam NKB 199. Melalui syair lagu tersebut, kita semua diingatkan apakah kita sudah memberikan yang terbaik kepada Yesus, yang telah mengorbankan nyawa-Nya di kalvari untuk menyelamatkan kita dari maut akibat dosa dan pelanggaran kita.

              Masalahnya adalah seringkali kita tanpa sadar justru mengartikan kurang atau bahkan salah dari kedua istilah dasar tersebut. Pelayanan maupun persembahan, yang seharusnya memiliki makna “memberikan yang terbaik bagi Tuhan, tanpa pamrih, melalui totalitas daya, dana, dan doa-doa syafaat kita”, justru sering kita artikan menjadi “memberikan sekedarnya, seikhlasnya, atau jika ada sisa atau kelebihan, baru kita melakukannya”. Bahkan, tidak jarang ada yang dengan bangga berujar, “masih mending saya melakukannya, atau piro-piro aku gelem (=bhs.Jawa)”.

              Berkaitan dengan memberikan pelayanan dan persembahan terbaik tersebut, Alkitab mencatat bahwa, selain berlaku adil dan setia, kita juga dituntut untuk rendah hati di hadapan Allah- (Mikha 6 : 8), mencintai Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita/akal budi kita (Ulangan 6 : 5, Markus 12:30, Lukas 10:27), dan yang terpenting adalah ketika kita memberikan persembahan atau melayani-Nya, semuanya itu kita lakukan hanyalah untuk kemuliaan-Nya, disertai sembah sujud yang penuh kekudusan (1 Tawarikh 16 : 29).

            Selamat memberikan pelayanan dan persembahan terbaik bagi Tuhan, sesuai dengan kelimpahan berkat-Nya masing-masing, Amin        (Bawa M. Hadi, warga Blok XI).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s