SEORANG PEREMPUAN BERKISAH TENTANG ARTI SEBUAH NAMA

2 Raja-Raja 5 : 1-14

women20of20the20bible20x4-slideshowDikatakan ketika seorang perempuan dilahirkan, ia akan dikenal di lingkungannya sebagai putri dari bapak Joko. Memang betul sebuah nama sudah diberikan sejak lahir, tetapi bila sudah berkeluarga, seorang perempuan akan dikenal di lingkungannya dengan sebutan Ibu Roni, yang seharusnya namanya sendirilah yang harus disebut, tetapi justru nama suaminyalah yang menjadi nama panggilannya.
Apalagi bila mempunyai anak, sudah seorang perempuan beroleh sebutan anak. Bila anaknya lahir namanya Kian, nama anak laki-lakinya, akan dipanggil Ibu Kian. Memang perkawinan itu akan mengubah sebuah nama yang
dimiliki seorang perempuan. Semuanya, khusus berlaku orang-orang di pedesaan (dalam bahasa jawa Karan Anak). Andaikata nama sendiri Enjelika, setelah berkeluarga dan mempunyai suami bernama Naaman, ia kan dipanggil oleh orang-orang sekitarnya sebagai nyonya Naaman.
Dalam 2 Raja-raja 5 : 1, Naaman adalah seorang panglima Raja Aram, adalah orang yang sangat terpandang dihadapan dan sangat disayangi rajanya, sebab oleh dia Tuhan telah memberi kemenangan kepada orang Aram. Ia adalah seorang pahlawan yang kemudian menderita sakit kusta. Tetapi apa yang terjadi bila mereka yang dulunya menjabat sebagai panglima (seorang pahlawan) setelah menderita sakit yang begitu mengerikan dan menjijikkan, nama besar tersebut tidak lagi disebut-sebut.
Seperti halnya kisah seorang pelayan yang sangat berani, ia adalah seorang gadis tawanan perang orang Aram dan menjadi pelayan istri Naaman. Perempuan Israel yang dibawa Naaman ketika Naaman memenangkan bangsa Aram atas Israel. Suatu hari tuannya, Naaman, mengalami sakit kusta, karena kepedulian dan belas kasih-lah yang mendorong gadis pelayan itu berani berbicara kepada istri Naaman. Gadis itu menyarankan sekiranya tuannya mau menghadap nabi yang tinggal di Samaria dan memohon pertolongan nabi tersebut, tentulah nabi itu akan menyembuhkan tuannya dari penyakit kusta itu. Akhirnya perjumpaan Naaman dengan Elisa membawa panglima itu belajar tentang kerendahan hati dan mengalami kesembuhan yang pada akhirnya menjadi tahir (sembuh).
Sederhana, bukan hal besarlah yang disampaikan oleh sang pelayan itu kepada tuan dan nyonyanya, tetapi hal tersebut membawa kabar baik dan penyelamatan bagi orang lain. Empati (kepedulian) kepada sesamalah yang mendorong si pelayan itu dengan berani menciptakan perubahan. Apa yang telah dilakukan sangat penting, sehingga kitab suci mencatat perbuatan pelayan itu tetapi tentang siapa nama pelayan itu tidaklah penting. Seperti halnya seorang anak perempuan dari negeri Israel, sebagai pelayan istri Naaman yang berani memberitahu kepada tuan dan nyonyanya untuk menghadap nabi Elisa supaya menyembuhkan penyakit kustanya.
Adapun beberapa perempuan tak bernama yang dekat dengan kehidupan pelayanan Tuhan Yesus adalah :

  1. Janda miskin yang selalu berada di Bait Suci, yang memberi dari kekurangannya bahkan ia memberi seluruh nafkahnya untuk Tuhan (Lukas 21 : 1-4)
  2. Seorang perempuan yang beriman yang membawa minyak narwastu yang sangat mahal di dalam buli-buli, dan minyak narwastu itu dicurahkan di atas kepala Yesus (Markus 14 : 3-9)
  3. Perempuan yang mengalami penyakit pendarahan selama dua belas tahun, hanya dengan menjamah jubah Yesus bisa sembuh. Hanya karena imanlah, perempuan tadi bisa sembuh dari penyakitnya (Lukas 8 : 43-48)

Perlu diketahui juga oleh bapak dan ibu, ibadah Hari Kartini yang diselenggarakan oleh DPPW (Dewan Pembinaan Peranan Wanita) di tahun 2013 ini bertemakan Perempuan yang Memimpin dengan sub tema Perempuan yang Menginspirasi. Dalam Kitab Suci, ada 3 tokoh perempuan yang menginspirasi:

  1. Rut, perempuan yang mempunyai keyakinan baru.
  2. Debora, perempuan yang mempunyai keberanian.
  3. Maria, perempuan yang membawa sukacita.

Kata Debora, “Baik aku turut hanya Engkau, tidak mendapat kehormatan dalam perjalanan yang Engkau lakukan ini sebab Tuhan hanya menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang Nabiah, istri Lapidat, memerintah orang Israel sebagai hakim.
Kita bersyukur sebagai perempuan yang diutus sebagai hamba Tuhan yang setia melaksanakan tugas pelayanan yang mulia. Ditengah kehidupan bangsa dan Negara Indonesia, sebagai wanita-wanita penerus perjuangan Kartini, telah terbuka kesempatan bagi perempuan untuk mengembangkan diri dan ikut membangun bangsa dan Negara. Perempuan Indonesia juga telah mempunyai kesempatan untuk menuntut ilmu yang tinggi dan berkarya di ladang Tuhan.
Banyak perempuan Indonesia yang memegang jabatan yang setara dengan kaum pria, sehingga para perempuan senantiasa bersyukur karena perjuangan Raden Ajeng Kartini bisa melepaskan para perempuan Indonesia dari belenggu kegelapan menuju terang. Perempuan bangsa ini bisa berperan sesuai dengan bidangnya masing-masing. Habis Gelap Terbitlah Terang. Perempuan sebagai penolong yang sepadan, janganlah kaum pria menganggap perempuan hanya sebagai kanca wingking, yang tempatnya hanya di dapur dan hanya sebagai pelengkap.
Tuhan selalu menempatkan perempuan berada di depan. Seperti yang telah tertulis di dalam Kitab Suci, perempuan mempunyai keyakinan, keberanian, dan membawa sukacita. Memang perempuan itu telah diciptakan oleh Tuhan menjadi hebat, bahwa Tuhan member kesempatan kepada siapa saja, termasuk kepada perempuan Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) untuk mengembangkan diri dalam pelayanan di segala bidang. Amin

Oleh Pnt. Tri Soendari Disetyo, warga kelompok 9 Blok 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s