BAHASA

imagesKisah Para Rasul 2 : 5-6
Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.

Salam Sejahtera Dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus,

Dalam suasana himpunan masyarakat yang terdiri dari berbagai bangsa mengerumuni Para Rasul – Roh Kudus telah merubah suasana saat itu sehingga pada waktu Para Rasul berkata-kata,  mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.

Sewaktu Para Rasul berkata :” Allah, sumber damai sejahtera, menyertai kamu sekalian! Amin.” Orang – orang mendengar dalam bahasanya sendiri-sendiri :
Orang Jawa :”Muga-muga Gusti Allah, etuking katentreman, nunggil karo kowé. Amin.”
Orang Madura:”Moga-moga Allah, seapareng kataremtemman ka manossa, asarengnge sampeyan sadaja. Amin.”

Orang Inggris :” May God, our source of peace, be with all of you. Amen.”
Orang Batak Toba :”Didongani Debata Pardame i ma hamu saluhutna! Amen.”- –
mereka tahu karena itu bahasa mereka sendiri yang didengarnya.

Demikian juga,  sewaktu akan menyampaikan suatu pesan kepada orang-orang itu, Para rasul mungkin berkata dalam bahasa Ibrani : “Shalom aleichem”
Orang Arab mendengarnya sebagai : “Assalamu alaikum” , seandainya kita waktu itu kita ada disana maka akan mendengar :”Damai sejahtera kiranya menyertaimu” , dan orang Inggris mendengar :”Peace be upon you”.

Dari hal tersebut diatas kita mendapatkan kesimpulan bahwa Roh Kudus membantu manusia untuk mengerti arti Firman Allah yang disampaikan para Rasul kepada umat manusia dari berbagai bangsa, masing-masing dari setiap pribadi yang di ajarNYA.

Bukan suatu kebetulan kalau banyak para ahli bahasa berhimpun dalam suatu Badan dan berusaha keras menterjemahkan Alkitab dalam berbagai bahasa, kalau di Indonesia dalam Lembaga Alkitab Indonesia [ LAI ], itu benar-benar karya Allah karena kasihNYA kepada kita semua, agar kita dapat membaca Firman Allah dalam bahasa kita sendiri yang dapat kita mengerti.  Tuhan tidak memaksa kita untuk tahu bahasa asal Alkitab, tetapi kita diperkenankan membaca, mempelajari dan mengerti dari bahasa kita masing-masing : Jawa, Sunda, Batak, Madura d.s.b. hasil dari kerja yang teliti dari para ahli bahasa itu.

Lalu bagaimanakah kita menilai kawan-kawan kita yang sebelum mulai suatu kotbah, atau pembicaraan dibuka dengan kata-kata bahasa Ibrani : “Shalom!!” dengan volume suara yang agak keras dan menunggu jawaban audience / jemaat.
Terkadang di ulangi lagi kalau jawabannya kurang mantab.
Bahkan setelah yang ketiga, pernah suatu ketika dibelakang saya menjawab :”loooooom!!!” saja.  Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan, dan belum ada data statistik berapa persen dari mereka yang tahu arti sebenarnya “kata” itu.

Mengapa tidak dibuka dengan salam pembuka dari bahasa kita sendiri : “ Salam damai sejahtera kepada saudara-saudara yang terkasih didalam Tuhan kita Yesus Kristus, hari ini kita – – – – – – dst.”
Semua yang hadir tahu maknanya dan tak ada persoalan yang mengganjal karena masalah bahasa negeri orang lain yang kita harus pelajari lebih lanjut.

Karena masalah bahasa adalah masalah budaya, adat kebiasaan setempat.
(Dari berbagai sumber.)

(Kiriman dari Bpk. Adi Saputra, warga Kelp. 3 Blok XI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s