Perintah untuk Mengasihi

Yohanes 15: 9 – 17

imagesJikalau ditanya apakah keunggulan iman Kristen dibandingan lainnya dalam hal kehidupan moral dan social? Jawabannya adalah kasih. Namun sayang, kasih yang seharusnya menjadi keunggulan iman Kristen, telah terkalahkan oleh propaganda mukjizat, teologi kemakmuran, materialisme dsb. Di jaman yang penuh dengan filosofi materialisme, kasih telah menjadi hambar,
kasih yang keluar tergantikan kasih ke dalam, artinya kasih kepada kepentingan diri sendiri. Wujud kasih yang seharusnya menjadi ciri khas gereja Tuhan adalah misi ke luar untuk kepentingan orang lain,  namun gereja lebih banyak membangun dan memperbesar keuangan demi kepentingan diri sendiri, apalagi jika denominasinya berbeda.
Di jaman yang secara perekonomian semakin susah ini, kasih justru diperlukan dan menurut saya menjadi salah satu solusi untuk mengangkat derajat kesejahteraan rakyat. Korupsi adalah salah bentuk membekunya kasih. Bayangkan saja, jika setiap keluarga Kristen menyisihkan uang untuk mengadopsi salah satu anak yang tidak mampu sekolah dan menyekolahkan hingga PT, maka akan banyak orang cerdik pandai di negeri ini; jika setiap keluarga Kristen menyisihkan uangnya untuk membantu masyarakat menyediakan sembako murah, maka akan banyak orang yang tertolong. Mari kita berkaca pada jemaat mula-mula, yang saling membantu, maka tidak ada orang miskin di antara jemaat (Kisah 2: 45; 4: 34-35; 2 Kor. 8: 13-14). Seharusnya gereja bisa menjadi mitra pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan dan penderitaan yang sedang terjadi saat sekarang ini.
Jika kita melihar perikop yang kita baca, perintah untuk mengasihi dipaparkan setelah Yesus berbicara mengenai sumber rohani supaya orang Kristen bisa berbuah (Yoh. 15: 5 & 8). Jadi jelas, buah yang diinginkan Yesus dari muridNya adalah kasih. Kasih orang Kristen mutlak bersumber dari persekutuan dengan Yesus Kristus sang pokok anggur (Yoh. 15: 5). Persekutuan dengan Yesus harus dimulai dengan menerima berita Injil/kesaksian para rasul dengan sepenuh hati ( I Yoh. 1: 3 “ apa yang telah kami lihat, dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepadamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan anakNya Yesus Kristus). Jadi jika kita mau mendidik seseorang untuk berbuat kasih, maka harus bermula dari hal tersebut. Bandingkan juga dengan cerita jemaat mula-mula, dimana perbuatan kasih mereka diawali dengan pertobatan mereka kepada Yesus Kristus (Kisah 2: 41). Tapi sayang, pemberitaan injil telah menghilang dari mimbar gereja. Mungkin faktor inilah yang mengakibatkan kasih telah mulai memudar di dalam kehidupan bergereja.

Selanjutnya, kasih orang Kristen berawal dari kasih Allah. Mari kita perhatikan ayat 9. Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk tinggal dalam kasihNya. Tinggal di dalam kasihNya identik dengan menuruti perintah Yesus untuk mengasihi (ayat 10 & 12). Namun perintah mengasihi didahului dengan ayat 9a, yaitu Yesus mengasihi terlebih dahulu.Ini sejalan dengan ajaran Alkitab di dalam I Yoh. 4: 10 “ Inilah kasih itu : bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang terlebih dahulu mengasihi kita dan yang telah mengutus anakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” Kasih Allah kepada kita menjadi contoh bagaimana mengasihi dengan benar ( I Yoh. 4: 11 “ Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.” ). Inilah yang membedakan kasih orang Kristen dengan kasih orang selain Kristen. Selain itu, dengan kasih Allah yang terlebih dahulu kepada kita, maka membuat kita “ berhutang budi “ kepada Allah sehingga ingin membalas kasihNya dengan melakukan sesuatu yang diinginkan Tuhan. Sesuatu yang diinginkan Tuhan adalah mengasihi.
Dua faktor itulah yang membuat kasih orang Kristen lebih unggul daripada kasih orang bukan Kristen.Kasih orang Kristen bersifat kekal dan melampaui. Mengapa bisa demikian ? Mari kita perhatikan ajaran Tuhan Yesus dalam Matius 5: 38-47. Perintah ini merupakan perintah yang sulit bagi manusia yang telah jatuh dalam dosa. Contoh : bukankah kita lebih cenderung menahan berkat atau bahkan menimbun berkat daripada menyalurkannya ? Bukankah perintah itu adalah perintah 1 mil ? Jika perintah 1 mil saja sulit untuk dilakukan bagaimana melakukannya dengan sukarela melampui 2 mil ? Coba perhatikan ajaran Tuhan Yesus yang lain dalam Matius 18 : 21-22. Apakah mampu seorang manusia berdosa yang kecenderungannya membalas dendam, bisa mengampuni berkali-kali tidak pernah putus-putusnya ? Hal-hal itu hanya dapat dilakukan jika kita melekat kepada sang sumber kasih dan memiliki persekutuan denganNya dan menTuhankan Allah yang telah mati bagi dosa-dosa kita. KeTuhanan Kristus sangat penting bagi seorang murid Kristus. Coba seandainya anda dikhianati dan dihina oleh seseorang yang anda kasihi, bukankah kita cenderung untuk mempertahankan sakit hati kita dan tidak ingin melakukan perbuatan kasih kepadanya ? Jika kita melihat orang, maka kita cenderung tidak bisa mengasihi, namun jika melihat Tuhan yang sudah mati bagi dosa-dosa kita, maka kita mau mengasihi orang yang telah menyakiti kita bukan karena orang itu, tetapi karena ingin menyenangkan Tuhan.

Bagaimana kasih yang harus kita lakukan ? Perhatikan ayat 13. kata kerja yang dipakai untuk mengasihi adalah memberi. Jadi kasih berarti memberi, bukan menerima. Memberi berarti mengurangi sesuatu yang kita miliki. Yesus memberi contoh mengasihi dengan cara memberikan nyawa. Nyawa adalah hal yang paling berharga yang kita miliki yang cenderung dilindungi mati-matian. Harga sebuah nyawa tidak dapat digantikan oleh santunan asuransi bernilai 1 miliar. Itu artinya nyawa mahal harganya. Namun demikian hal yang paling berharga inipun harus diserahkan jika kita mengasihi orang lain. Kasih memerlukan pemberian yang totalitas. Bukankah hal tersebut merupakan contoh yang sulit untuk dilakukan ? Sekali lagi, untuk bisa melakukan hal ini perlu dua faktor tersebut di atas. Selain itu, Yesus juga memberi pengajaran mengapa Dia mau mati bagi kita ? Karena Yesus memandang kita sebagai seorang sahabat, bukan hamba. Jika Yesus memandang kita sebagai seorang sahabat, maka kitalah yang harus melayani Yesus. Tetapi jika dipandang sebagai sahabat, maka Yesus juga memiliki hak untuk melayani kita. Hal ini sejalan dengan Amsal 17: 17 “ Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Hal tersebut harus menjadi prinsip kita supaya kita bisa mengasihi orang lain dengan totalitas. Namun sekali lagi, bagaimana mungkin memandang seorang “ musuh “ sebagai seorang sahabat ? Yesus bisa memandang orang berdosa sebagai seorang sahabat karena Dia sang sumber kasih, maka supaya kita juga bisa melakukannya, marilah kita melekat kepada sang pokok anggur itu.

            Selanjutnya, siapa yang harus kita kasihi ? Ayat 17 Yesus memerintahkan supaya mereka saling mengasihi diantara murid-murid itu sendiri. Perintah ini sejalan dengan perintah pada Yoh. 13: 34 “ Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi…” Kata kamu di situ menunjuk kepada sesama murid/orang Kristen. Hal yang menjadi masalah adalah, berarti perintah Yesus itu bertentangan dengan perintah kasih pada Matius 22: 39 yaitu : kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Yang dimaksud dengan sesame manusia adalah semua orang tanpa pandang suku, agama, pendidikan, tingkat ekonomi dsb. Sesungguhnya kedua perintah tersebut tidak bertentangan satu sama lain. Jika hal itu bertentangan, bagaimana Yesus bisa menggenapi hukum Taurat sebagaimana yang dikatakanNya sendiri dalam Matius 5: 17 “ Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya.” Jawaban untuk hal itu adalah, bagaimana mungkin mengasihi seseorang yang tidak ada sangkut pautnya dengan kita, jika dengan saudara sendiri yang ada disekitar hidup kita sehari-hari kita tidak peduli ? Jika hal itu mungkin dilakukan, maka kasih yang dilakukan adalah kasih yang munafik, karena supaya ingin dilihat baik oleh orang lain. Kasih kepada saudara adalah pembelajaran kasih sebelum kita mengasihi orang lain.

            Satu hal yang menarik berkaitan dengan perintah Tuhan Yesus mengenai kasih yaitu bahwa kasih menimbulkan sukacita (ayat 11). Yesus tidak mengajarkan bahwa sukacita seorang Kristen bersumber kepada berkat yang diterima, seperti kekayaan, jabatan dsb. Jelas ini bertentangan dengan hikmat dunia yang mengajarkan bahwa materi/dunia bisa memberikan sukacita. Celakanya banyak pemuda Kristen yang mencari sukacita dengan cara minum ekstasi, pergi ke diskotik, main perempuan, sex bebas, menjadi kaya dsb. Itu semua adalah tipuan Iblis. Jika hidup anda ingin penuh dengan sukacita, caranya adalah dengan mentaati Allah dengan cara mengasihi. Satu hal lagi yang lebih paradoks dengan hikmat dunia, adalah justru sukacita yang penuh akan diperoleh ketika kita kehilangan sesuatu dari diri karena kasih yang memberi. Bukankah hikmat dunia mengajarkan bahwa dengan menerimalah dan memiliki banyak sukacita itu di dapat karena kita bisa melakukan banyak hal karena kita menerima banyak hal ?

Bukankah dengan kehilangan sesuatu dari diri kita seharusnya membuat kita sedih ? Ya, prinsip itu berlaku bagi orang berdosa yang belum menjadikan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamatnya ! Namun bagi seseorang yang telah menTuhankan Kristus, maka memberi bagi orang lain berarti sama dengan memberi untuk Tuhan yang telah mati bagi dia dan justru hal itu menyenangkannya.( 2 Kor. 5: 15 “ Dan Kristus telah mati bagi semua orang, supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan bagi mereka.” ) Satu hal lagi. Jika kita bersekutu dengan sang sumber kasih, bukankah kita juga akan “kecipratan” sifatNya ? Yoh. 1: 12 berkata “ Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah yaitu mereka yang percaya dalam namaNya.” Janji ini telah dibuktikan oleh kehidupan jemaat Makedonia yang miskin secara ekonomi tetapi kaya dalam memberi. 2 Kor. 8: 2-3 “ Selagi dicobai dengan berat dalam berbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampui kemampuan mereka.”. Perhatikan jemaat itu memberi dengan sukacita meski menderita dan hidup miskin ,bahkan memberi dengan melampaui kemampuan mereka. Mereka telah melakukan perintah bukan perintah 1 mil tetapi 2 mil. Kasih semacam itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang telah memiliki persekutuan dengan Yesus Kristus dan menTuhankanNya dalam hidup sehari-hari. Namun perhatikan, jemaat Makedonia bukan hanya “ kecipratan sifat kasih dari Allah, tetapi juga sukacita Allah yang adalah sumber sukacita abadi. Maukah saudara mengasihi Yesus dengan cara mengasihi orang lain ?

Tuhan Memberkati !

(Kiriman dari Bpk. Agung Kurniawan, Blok V kelp.5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s